Category: berita bola

Jika Gabung MU, Aubameyang Akan Bernasib Sama Seperti Sanchez

Legenda Arsenal, Charlie Nicolas menjadi salah satu pihak yang menolak wacana transfer Pierre-Emerick Aubameyang menuju Manchester United.

Sebagai informasi, Pierre-Emerick Aubameyang saat ini sudah berusia 31 tahun, namun performanya bersama Arsenal justru semakin apik. Sayangnya, menurut laporan yang terdengar, pemain asal Gabon tersebut berencana untuk meninggalkan The Gunners pada musim panas mendatang.

Spekulasi ini semakin mencuat seiring dengan fakta bahwa sampai sekarang mantan pemain Borussia Dortmund tersebut tak kunjung menyepakati kontrak baru dari Arsenal. Padahal, di satu sisi kontraknya akan segera kadaluwarsa sampai tahun 2021 nanti.

Memang, sisa kontrak satu tahun itu bisa saja digunakan Arsenal untuk mempertahankan sang pemain, tapi tentu saja mereka tak mau kehilangan Aubameyang secara Cuma-Cuma pada musim panas tahun 2021 mendatang.

Sejauh ini, ada beberapa raksasa Eropa yang dikaitkan dengan mantan pemain Saint-Etienne tersebut, termasuk klub rival, Manchester United. Wacana kepindahannya ke Old Trafford pun bukan suatu hal yang tidak mungkin.

Pasalnya, dalam sejarah Arsenal sempat melepas beberapa pemain ke Manchester United, seperti Robin Van Persie dan Alexis Sanchez.

Tapi, andai Aubameyang bergabung dengan Manchester United, Charlie Nicolas yakin bahwa pemain Gabon itu akan senasib dengan Alexis Sanchez yang tampak kurang sukses.

“Jika Aubameyang ingin pergi, idealnya anda ingin dia keluar dari Premier League. Namun, dia berada di usia yang bisa terlihat ancamannya serta paham perbandingan antara dia dengan Van Persie. Namun, saya pikir dia hakan memikirkan soal apa yang terjadi kepada Alexis Sanchez ketimbang dengan apa yang terjadi ke Van Persie,” ujarnya ke Sky Sports.

Bukan tanpa alasan, karena menurut Charlie Nicolas, Manchester United sekarang jauh berbeda dengan era Sir Alex Ferguson, dimana saat itu Robin Van Persie bergabung dengan klub rival dan meraih sukses.

“Akankah dia ingin menjadi bagian dari bintang daur ulang di Manchester United? Apa menariknya? Kalau Liverpool atau Manchester City saya akan paham, tapi Manchester United masih berada jauh dari dua klub itu. Saya tidak melihat kepindahannya ke Old Trafford menarik,” pungkasnya.

Ingin Jadi Pelatih, Ibra Mungkin Pensiun Akhir Musim Ini

 

Sebuah kabar yang cukup mengejutkan datang dari Striker kondang Swedia, Zlatan Ibrahimovic. Pemain AC Milan tersebut diyakini bakal gantung sepatu di akhir musim ini karena ketertarikannya terjun ke dunia manajerial.

Ibra sendiri sejatinya baru merapat ke AC Milan pada bursa transfer musim dingin kemarin. Sosok berusia 38 tahun itu didapat dengan status bebas transfer alias Gratis. Pasalnya, kontrak bersama dengan LA Galaxy terakhi berakhir di penghujung bulan Desember 2019.

Meski terbilang sudah cukup uzur, tapi kehadiran Ibra di tengah-tengah skuat arahan Stefano Pioli bisa dibilang memberikan dampak positif. Tiga gol penting ia persembahkan dari delapan pertandingan yang membuat Milan bisa merangsek naik secara perlahan di klasemen Serie A musim ini.

Akan tetapi, masa kebersamaan Rossoneri dengan Ibra mungkin tak bisa bertahan lama, karena kontrak yang ada hanya membuat sang pemain bertahan sampai akhir musim ini. Meski begitu, Milan memiliki klausul yang membolehkan mereka menggunakan jasa Ibra untuk semusim lagi.

Gol-gol yang lahir dari pria berumur 38 tahun itu jelas sangat dibutuhkan oleh AC Milan. Itulah mengapa pihak klub sedang berupaya keras agar sang pemain mau untuk membubuhkan tanda tangannya di kontrak anyar.

Belum lama ini, sempat muncul laporan yang mengklaim bahwa Ibra mungkin akan bertahan di AC milan musim depan. Akan tetapi, muncul laporan terbaru dari Sportmediset yang cukup mengejutkan publik.

Disebutkan bahwa Ibrahimovic bakalan menggantung sepatunya pada akhir musim ini. Dan usai melakukannya, ia ingin menimba ilmu guna melanjutkan karirnya sebagai pelatih.

Keputusan sang pemain ini bukan tanpa sebab. Ibra diklaim tak senang dengan konflik Internal yang sempat terjadi di kubu Rossoneri, dimana konflik tersebut juga yang membuat Zvonimir Boban harus terdepak dari posisinya sebagai CEO Klub.

Seperti yang diketahui, Boban secara terbuka menyatakan keberatan atas tindakan Ivan Gazidis selaku CEO Milan. Ia merasa tugas dan wewenangnya diambil alih secara diam-diam.

Padahal, Boban sendiri adalah sosok yang berperan dalam keberhasilan AC Milan mendatangkan Ibrahimovic pada januari kemarin.

Liga Champions Eropa Ditunda Sampai Waktu Yang Belum Ditentukan

Serangkaian keputusan diambil UEFA setelah menggelar pertemuan jarak jauh. Salah satunya adalah keputusan terkait jadwal ulang Liga Champions Eropa. Kompetisi tersebut akan ditunda sampai waktu yang belum ditentukan.

Tidak lain, keputusan tersebut diambil seiring dengan pandemi Virus Corona atau COVID-19 yang tak kunjung mereda. Banyak Sektor yang berdampak karena wabah tersebut, tak terkecuali sepakbola yang begitu didambakan publik Eropa.

Tercatat, Italia adalah negara yang paling berdampak, dimana hal tersebut membuat Serie A akhirnya ditangguhkan sampai awal bulan April 2020 mendatang. Hal serupa kemudian dilakukan oleh Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol dan Bundesliga Jerman.

Sedangkan UEFA sendiri sebelumnya memutuskan untuk tidak menggelar pertandingan Liga Champions Eropa dan Liga Europa yang harusnya digelar pekan ini. Di Liga Champions sendiri, hanya ada sisa empat pertandingan leg kedua babak 16 besar yang belum bergulir.

Pada hari Selasa (17/03), UEFA menggelar rapat jarak jauh untuk menentukan nasib Liga Champions. Sebagai informasi, laga pamungkas kompetisi tersebut harusnya digelar pada akhir bulan Mei nanti.

Asosiasi Sepakbola Tertinggi di Eropa tersebut akhirnya memutuskan untuk tidak menggelar Liga Champions Eropa sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

“Semua kompetisi dan pertandingan klub dan timnas baik untuk pria dan wanita ditunda sampai pengumuman yang lebih lanjut,” bunyi pernyataan UEFA dikutip dari Daily Mail.

Sebelumnya, UEFA juga sudah memutuskan untuk tidak menggelar ajang akbar, Piala Eropa atau Euro 2020 pada musim panas nanti. Kompetisi tersebut baru akan digelar 12 bulan setelahnya, atau pada Juni tahun 2021 mendatang.

Perihal Liga Champions sendiri, Marca mengklaim telah mengetahui tanggal pasti kapan laga finalnya bakalan digelar. Media asal Spanyol itu mengatakan bahwa laga final bakalan digelar pada tanggal 27 Juni.

Adapun, pertandingan babak 16 besar Liga Champions Eropa terakhir kali digelar pada pekan lalu. Empat tim telah memastikan tiket ke babak 16 besar setelah melakoni leg kedua, yang sebagian diantaranya digelar tanpa kehadiran penonton.

Adapun, empat tim tersebut antara lain adalah RB Leipzig, Atalanta, Paris Saint-Germain dan Atletico Madrid.

Emre Can Ungkap Alasan Tinggalkan Juventus

Gelandang Jerman, Emre Can akhirnya angkat bicara mengenai alasan dibalik keputusannya hengkang dari Juventus pada bursa transfer musim dingin kemarin.

Sebagai informasi, Emre Can bergabung dengan Juventus pada bursa transfer musim panas tahun 2018 lalu. Saat itu, kontraknya dengan Liverpool berakhir, sehingga dia merapat ke Turin dengan status bebas transfer alias gratis.

Pada kampanye musim 2018/19, atau musim debutnya di Serie A Italia, gelandang Internasional Jerman ini mendapat jatah bermain yang cukup. Dia kerap diandalkan pelatih Max Allegri.

Namun, situasinya berbeda sejak memasuki musim 2019/20 ini. Kehadiran pelatih Maurizio Sarri membuat sang pemain harus rela lebih sering duduk di bangku cadangan.

Mantan pelatih Napoli itu lebih senang memainkan Miralem Pjanic, Sami Khedira dan Rodrigo Bentancur di lini tengah. Akhirnya, Can terabaikan.

Kemudian, mantan pemain Bayer Leverkusen ini memanfaatkan bursa transfeer musim dingin Januari 2020 kemarin untuk pindah klub. Akhirnya, dia bergabung dengan Borussia Dortmund.

Berbicara mengenai alasan dibalik keputusannya pindah, Can pun tak memungkiri bahwa dia ingin bermain lebih banyak. Pasalnya, dengan tampil lebih banyak peluangnya menembus timnas Jerman untuk ajang Euro 2020 lebih besar.

“Alasan utama saya meninggalkan Juventus adalah karena saya ingin bermain sepak bola lagi. Jelas kemungkinan berpartisipasi dalam Kejuaraan Eropa juga berdampak. Saya ingin menjadi bagian dari tim nasional Jerman,” kata Can kepada surat kabar Jerman, Kicker.

Lebih lanjut, Emre Can kecewa lantaran Juventus menolak banyak tawaran untuknya pada musim panas kemarin, tapi justru dia tidak sering diandalkan oleh manajer Maurizio Sarri.

“Kemudian, setelah klub menolak tawaran untuk saya dan membawa saya keluar dari bursa transfer, ia (sarri) menelepon saya dan dengan panggilan telepon 20 detik mengumumkan bahwa saya tidak ada dalam daftar pemain di Liga Champions.”

“Setelah panggilan itu, saya tidak diberi kesempatan. Saya pikir itu tidak adil dan itulah sebabnya saya memutuskan untuk pindah pada bulan Januari. Tapi keputusan itu tidak ada hubungannya dengan klub, juga para penggemar,” tegasnya.

Kini di Dortmund, Can jadi andalan utama di lini tengah. Hanya saja, dia gagal membantu wakil Jerman itu lolos ke perempat final Liga Champions usai kekalahan 0-2 di kandang PSG Dinihari tadi.

Erling Haaland Buka Pintu Gabung Real Madrid

Penyerang buas Norwegia, Erling Braut Haaland memberikan sinyal positif kepada raksasa La Liga Spanyol, Real Madrid terkait dengan peluang bergabung ke Bernabeu di masa mendatang.

Sebagai informasi, Erling Haaland merupakan salah satu pemain muda yang sangat bersinar pada kampamye musim ini. Setelah bermain apik bersama RB Salzburg, yang bersangkutan lantas dibeli Borussia Dortmund pada bursa transfer musim dingin kemarin.

Performanya saat membela Norwegia di ajang Piala Dunia U-20 tahun kemarin memang sudah menarik minat sejumlah raksasa Eropa. Bagaimana tidak ? Dia berhasil mencetak sembilan gol sekaligus dalam satu pertandingan pada kompetisi tersebut.

Manchester United sangat serius ingin membeli Erling Haaland pada Januari 2020 lalu. Akan tetapi, jalan terjal dihadapi. Mino Raiola, agen Erling Haaland, tidak bersedia berhubungan dengan United dan akhirnya memilih pindah ke Dortmund.

Sebelum memutuskan bergabung dengan klub Jerman, Haaland sudah diminati sejumlah raksasa Eropa seperti Real Madrid misalnya.

Meski saat ini dia sudah terikat kontrak jangka panjang dengan Dortmund, namun yang bersangkutan tak menutup peluang merapat ke Santiago Bernabeu.

“Selalu menyenangkan ketika mendengar klub-klub besar tertarik pada Anda. Itu artinya, Anda telah melakukan sesuatu dengan benar,” ucap Erling Haaland kepada Four Four Two Magazine.

Perlu diketahui, Dortmund sendiri membeli Erling Haaland senilai 20 Juta Euro dari RB Salzburg, tapi tentu saja angka tersebut berpotensi melambung. Bahkan, saat ini nilai jual Haaland mencapai angka 60 Juta Euro.

Sejak dibeli dari RB Salzburg, Haaland langsung tancap gas bersama Dortmund. Sejauh ini dia bahkan mengemas sembilan gol hanya dalam 7 pertandingan Bundesliga Jerman. Tak hanya itu, sang pemain juga tampil apik di panggung Eropa.

Tercatat, Haaland mengemas dua gol saat Dortmund menang atas PSG pada partai leg pertama babak 16 besar Liga Champions Eropa. Sedangkan jika digabung dengan statsitiknya saat bermain bagi Klub Austria, Haaland sudah mencetak 10 gol di ajang Liga Champions.

Total, Haaland sudah mencetak 40 gol di level klub. Baik itu bersama Dortmund maupun FC Salzburg.

Menang di Santiago Bernabeu, Pep Disanjung Legenda City

Kemenangan atas Real Madrid di Santiago Bernabeu dinihari tadi tak lepas dari ramuan ‘baru’ dari pelatih Pep Guardiola. Tak heran jika banyak yang kemudian menyanjung tangan dingin pelatih asal Spanyol, termasuk salah satunya legenda klub, Micah Richards.

Sebenarnya, para pemain Manchester City juga ikut terkejut dengan perubahan formasi yang dilakukan Pep Guardiola. Mantan pelatih Barcelona itu mengubah pakem 4-3-3 yang biasa dia gunakan menjadi 4-4-1-1.

Tak hanya formasi, Pep bahkan tidak menyertakan nama-nama seperti Sergio Aguero, Fernandinho dan Raheem Sterling sebagai starter dalam laga tersebut. Lalu beberapa pemain juga tidak dimainkan pada posisi yang seharusnya.

Misalnya Gabriel Jesus, jika pemain Brazil biasanya bermain sebagai penyerang tengah, dalam laga tersebut dia tampil sebagai gelandang kiri. Bernardo Silva yang biasanya menghuni posisi tersebut justru bermain sebagai penyerang tunggal.

Meski cukup kontroversial dan membuat kaget banyak pihak, racikan pep Guardiola ini terbukti efektif untuk membungkam publik Santiago Bernabeu. Pasukan Zinedine Zidane akhirnya takluk dengan skor 1-2, meski sempat unggul lebih dulu lewat gol Isco.

Tak ayal, tangan dingin sang manajer lantas mendapat sanjungan dari banyak pihak, termasuk legenda klub Micah Richards.

“Ini adalah masterclass. Beberapa kali, orang-orang mempertanyakan Pep – tidak memainkan David Silva, Sterling, Aguero, Fernandinho – dia pantas mendapatkan pujian yang besar. Malam ini ia menunjukkan bahwa bila dia bukan pelatih terbaik di dunia, dia adalah salah satu dari tiga besar,” katanya kepada Radio BBC 5.

Pelatih Pep Guardiola sendiri mengaku puas dengan kinerja para pemainnya sepanjang pertandingan tadi. Hanya saja, sang juru taktik enggan jemawa karena masih ada pertandingan leg kedua yang mungkin akan lebih berat.

“Saya senang dan puas dengan kemenangan dan performa anak-anak. Tapi, semuanya belum usai. Hanya akan ada satu klub yang akan tampil sebagai juara. Manchester City belum memenangi banyak gelar, tapi bisa menang di Santiago Bernabeu adalah kepuasan tersendiri,” kata Pep.

Adapun, pertandingan leg kedua antara kedua tim baru akan dilangsungkan pada 19 Maret 2020 mendatang di Etihad Stadium.

Sedang Transisi, Fans Juventus Harus Bersabar Dengan Sarri

Kiper Legendaris Juventus, Gianluigi Buffon, memahami amarah para fans Bianconneri terkait kinerja tim kesayangan mereka dibawah arahan manajer Maurizio Sarri. Namun demikian, sang legenda meminta fans lebih bersabar karena saat ini Juventus sedang dalam masa transisi.

Maurizio Sarri memang ditunjuk untuk menjadi suksesor Massimiliano Allegri pada musim panas kemarin. Tentu saja, tugasnya adalah bisa memenangkan gelar Liga Champions Eropa, di samping mempertahankan gelar Serie A italia.

Torehan Sarri pada musim ini sejatinya tidak begitu buruk. Kendati mendapatkan perlawanan sengit dari dua raksasa Italia lainnya, Lazio dan juga Inter Milan, Juventus masih sanggup bertengger di puncak klasemen Serie A.

Hanya saja, Juventus sudah telan tiga kekalahan di semua ajang musim ini, dan yang lebih mengecewakan fans adalah tiga kekalahan tersebut ditelan dalam laga yang harusnya bisa dimenangkan. Contohnya saat melawan Verona awal bulan ini.

Juventus kerap kehilangan poin penting, sehingga tidak jarang kalau mereka disalip oleh Inter. Dan sekarang, mereka sedang berjarak satu poin dari Lazio yang berada di peringkat kedua. Sehingga wajar kalau publik mulai gusar.

Fans lantas menyalahkan Maurizio Sarri atas performa tak konsisten yang ditunjukkan Cristiano Ronaldo dkk. Tak ayal, spekulasi pemecatan mantan manajer Napoli dari kursi manajer mulai mengemuka. Mendengar hal ini, Buffon tidak tinggal diam.

Dia meminta fans untuk lebih bersabar karena kenyataannya klub sedang dalam masa transisi saat ini, jadi perlu waktu untuk pelatih bisa menerapkan gagasannya secara menyeluruh.

“Kami perlu mengubah kulit untuk menghadapi proses lainnya. Itu membutuhkan waktu. Adalah benar untuk mencoba sesuatu yang berbeda demi meraih target. Saya berharap Sarri bertahan, karena itu artinya kami bakalan memenangkan sesuatu,” ujar Buffon kepada Le Iene.

Inter Milan jadi pesaing kuat Juventus dalam perburuan Scudetto musim ini, akan tetapi Buffon justru memandang Lazio sebagai ancaman yang berarti.

“Jika Inter lolos di Liga Europa, saya akan berkata kalau Lazio [adalah yang paling berbahaya]. Mereka hanya bermain hari Minggu, itu yang membuat mereka jadi lebih menakutkan,” pungkasnya.

Guardiola Akui Kini Dia Bukan Pelatih Terbaik Dunia

Semakin berkembangnya tim-tim Eropa tak terkecuali di Inggris, membuat persaingan menuju gelar juara semakin ketat. Level kesulitan yang kian meninggi ini membuat Pep Guardiola mengakui bahwa kini dia tak layak menyandang status pelatih terbaik dunia.

Sejak memulai karirnya sebagai pelatih, Pep Guardiola memang langsung menjadi sorotan. Bagaimana tidak, debutnya di Barcelona ditandai dengan Sextuples atau Enam gelar dalam semusim, tepatnya di tahun 2009 silam.

Kemudian, Pep juga sempat sukses bersama Bayern Munchen dan sekarang dia menangani Manchester City. Total, Guardiola hingga kini sudah meraih delapan gelar liga bersama tiga tim berbeda, serta dua trofi Liga Champions Eropa bersama Barcelona.

Tak heran jika orang-orang menyebut pelatih asal Spanyol itu sebagai salah satu pelatih terbaik dunia. Namun, sekarang situasinya cukup berbeda di Manchester city. Musim ini, Pep hampir pasti kehilangan gelar premier League.

Pasalnya, Manchester City yang dibesutnya sudah tertinggal 22 poin dari pemuncak klasemen sementara, Liverpool . Hal inilah yang membuat Pep Guardiola merasa bahwa dia bukan lagi pelatih terbaik dunia.

Namun, sedari masih menangani Barcelona, Pep memang tidak pernah merasa bahwa dia adalah pelatih terbaik.

“Dulu saya pernah (Menjadi pelatih terbaik dunia). Apa itu pelatih terbaik di dunia? Saya tak merasa saya yang terbaik, tak pernah dalam hidup saya,” Demikian kata Pep Guardiola kepada Sky Sports.

Lebih lanjut, mantan pelatih Bayern Munchen ini menegaskan bahwa kesuksesan tim bukan hanya karena racikan taktik dari pelatih, tapi juga karena para pemain yang bekerja sama sebagai tim.

“Ketika saya meraih enam gelar beruntun di Barcelona dan meraih treble, saya tak pernah merasa demikian. Saya juara karena saya memiliki para pemain luar biasa di klub besar,” tandasnya.

Bahkan pep juga mengakui bahwa dia tidak akan mampu meraih gelar juara jika tanpa dukungan para pemain yang luar biasa.

“Ada para pelatih hebat, mereka tak memiliki pemain ini, mereka tak memiliki klub besar ini. Saya pelatih bagus tapi bukan yang terbaik. Berikan saya tim yang tak seperti Manchester City, saya tak akan juara,” tukasnya.

Resmi Gabung Arsenal, Cedric Soares Janji Tampil 100 Persen

Cedric Soares telah resmi diperkenalkan sebagai penggawa anyar Arsenal, sejak Jum’at malam WIB (31/01). Bek berusia 28 tahun tersebut pun bertekad untuk memberikan 100 persen kemampuannya untuk The Gunners.

Sebagai informasi, Arsenal memang telah mencapai kesepakatan dengan Southampton untuk peminjaman Cedric Soares sampai akhir musim nanti. Bisa dikatakan, kedatangan bek Timnas Portugal ini memang diharapkan oleh The Gunners.

Pasalnya pasukan Mikel Arteta sedang mengalami krisis lini belakang, menyusul cederanya beberapa pemain andalan mereka. Nah, setelah resmi diperkenalkan sebagai penggawa anyar klub, sosok berusia 28 tahun tersebut mengumbar janjinya kepada para fans The Gunners.

“Saya akan memberikan 100% kemampuan saya di setiap hari dan di setiap pertandingan,” beber Soares kepada situs resmi Arsenal.

Lebih lanjut, pemain kelahiran Jerman ini juga menegaskan bahwa dia bukanlah tipe pemain yang suka mementingkan diri sendiri. Soares bahkan siap berkorban segalanya demi kepentingan tim dan klub, termasuk demi mencapai target di akhir musim nanti.

“Saya akan mencoba untuk menjadi energi dari tim ini. Saya juga menilai bahwa saya adalah pemain tim. Sebenarnya cukup sulit ketika anda diminta mendeskripsikan diri anda. Namun sekali lagi, saya akan memberikan 100% kemampuan saya untuk tim ini dan juga para fans.” Tandasnya.

Arsenal saat ini berada dibawah arahan Mikel Arteta. Menurut Soares, mantan assisten Pep Guardiola tersebut mengusung filosofi yang disukainya. Diapun yakin dengan proyek Arsenal dibawah arahan pelatih asal Spanyol

“Saya melihat tim ini ingin menjadi tim yang nyaman dalam menguasai bola. Saya juga melihat semua orang benar-benar bekerja keras ketika kami kehilangan bola. Ada pressing yang cukup ketat dan tim ini fokus untuk mengontrol tim lawan dan juga mencetak gol. Saya rasa Arsenal saat ini tengah membangun sesuatu yang bagus.” Tutupnya.

Arsenal sendiri masih membutuhkan performa yang konsisten. Meski tampak membaik dari segi performa, tapi hasil yang diraih masih belum bisa dikatakan konsisten. Di klasemen sementara, Arsenal berada di posisi ke-10.

Selanjutnya mereka akan berhadapan dengan Burnley. Partai bertajuk pekan ke-25 Premier League tersebut akan berlangsung pada Minggu malam WIB (02/01).

Dianggap Suksesor Lampard, Henderson Sempat Merasa Tertekan

Jordan Henderson kini jadi salah satu gelandang terbaik Eropa, dia bahkan memenangkan penghargaan sebagai pemain Inggris terbaik tahun 2019 kemarin. Namun keberhasilan ini tidak diraih dengan mudah. Sebelumnya, Hendo sempat mendapat tekanan yang berat, terutama saat dirinya dicap sebagai suksesor legenda Liverpool, Steven Gerrard.

Henderon sendiri bergabung dengan Liverpool pada bursa transfer musim panas tahun 2011 silam. Awalnya, dia kesulitan menembus tim utama, terlebih Steven Gerrard masih jadi pemain The reds saat itu. Kondisi tersebut tentu membuat Henderson tertekan, sulit berkembang. Biar begitu, dia tetap dipercaya menjadi kapten The Reds setelah Gerrard memutuskan pergi di tahun 2015.

 

Tapi siapa yang menyangka, kepergian sang kapten justru membuat Hendo semakin tertekan. Bagaimana tidak ? Publik kerap membandingkannya dengan legenda Inggris tersebut.  Pemain mana pun yang berada di posisi Henderson tentu kesulitan, untung dia tidak hancur di bawah tekanan. Namun secara perlahan tapi pasti performanya membaik.

 

Adalah Danny Murphy, yang ternyata diam-diam mengamati Henderson dan menilai bahwa sang gelandang timnas Inggris sempat merasakan tekanan.

 

“Segalanya tidak selalu berjalan mudah untuk Henderson di Anfield, dan saya kira dia sudah menderita sejak awal karena dibandingkan dengan Steven Gerrad, yang jelas tidak adil. Mudah mengatakan itu ketika dia bergabung di usia 20 tahun pada 2011 lalu, sebab dia merupakan gelandang muda Inggris. Tapi dia tidak seperti Gerrard, sebab tidak ada yang seperti itu.” ungkap Murphy kepada BBC Sport.

 

“Tentu saja bermain di samping seorang Steven Gerrard akan membuat kesulitan, hal tersebut karena Anda berada di sekitar salah satu gelandang terbaik di dunia, Anda tidak akan pernah terlihat lebih baik dari dia.  Barulah sejak Gerrard pergi pada tahun 2015 dan tim mulai berevolusi di bawah Jurgen Klopp, publik mulai terbiasa dengan performanya” tandasnya.

 

Sekarang, menurut Murphy, Jordan Henderson sudah berkembang menjadi sosok gelandang yang fantastis, terlebih usianya masih sangat muda, 29 tahun.

 

“Di usia 29 tahun, dia sudah berkembang menjadi sosok gelandang yang hebat dan merupakan contoh fantastis untuk pemain yang memaksimalkan kemampuannya,” tutup Murphy.