Sedang Transisi, Fans Juventus Harus Bersabar Dengan Sarri

Kiper Legendaris Juventus, Gianluigi Buffon, memahami amarah para fans Bianconneri terkait kinerja tim kesayangan mereka dibawah arahan manajer Maurizio Sarri. Namun demikian, sang legenda meminta fans lebih bersabar karena saat ini Juventus sedang dalam masa transisi.

Maurizio Sarri memang ditunjuk untuk menjadi suksesor Massimiliano Allegri pada musim panas kemarin. Tentu saja, tugasnya adalah bisa memenangkan gelar Liga Champions Eropa, di samping mempertahankan gelar Serie A italia.

Torehan Sarri pada musim ini sejatinya tidak begitu buruk. Kendati mendapatkan perlawanan sengit dari dua raksasa Italia lainnya, Lazio dan juga Inter Milan, Juventus masih sanggup bertengger di puncak klasemen Serie A.

Hanya saja, Juventus sudah telan tiga kekalahan di semua ajang musim ini, dan yang lebih mengecewakan fans adalah tiga kekalahan tersebut ditelan dalam laga yang harusnya bisa dimenangkan. Contohnya saat melawan Verona awal bulan ini.

Juventus kerap kehilangan poin penting, sehingga tidak jarang kalau mereka disalip oleh Inter. Dan sekarang, mereka sedang berjarak satu poin dari Lazio yang berada di peringkat kedua. Sehingga wajar kalau publik mulai gusar.

Fans lantas menyalahkan Maurizio Sarri atas performa tak konsisten yang ditunjukkan Cristiano Ronaldo dkk. Tak ayal, spekulasi pemecatan mantan manajer Napoli dari kursi manajer mulai mengemuka. Mendengar hal ini, Buffon tidak tinggal diam.

Dia meminta fans untuk lebih bersabar karena kenyataannya klub sedang dalam masa transisi saat ini, jadi perlu waktu untuk pelatih bisa menerapkan gagasannya secara menyeluruh.

“Kami perlu mengubah kulit untuk menghadapi proses lainnya. Itu membutuhkan waktu. Adalah benar untuk mencoba sesuatu yang berbeda demi meraih target. Saya berharap Sarri bertahan, karena itu artinya kami bakalan memenangkan sesuatu,” ujar Buffon kepada Le Iene.

Inter Milan jadi pesaing kuat Juventus dalam perburuan Scudetto musim ini, akan tetapi Buffon justru memandang Lazio sebagai ancaman yang berarti.

“Jika Inter lolos di Liga Europa, saya akan berkata kalau Lazio [adalah yang paling berbahaya]. Mereka hanya bermain hari Minggu, itu yang membuat mereka jadi lebih menakutkan,” pungkasnya.

Guardiola Akui Kini Dia Bukan Pelatih Terbaik Dunia

Semakin berkembangnya tim-tim Eropa tak terkecuali di Inggris, membuat persaingan menuju gelar juara semakin ketat. Level kesulitan yang kian meninggi ini membuat Pep Guardiola mengakui bahwa kini dia tak layak menyandang status pelatih terbaik dunia.

Sejak memulai karirnya sebagai pelatih, Pep Guardiola memang langsung menjadi sorotan. Bagaimana tidak, debutnya di Barcelona ditandai dengan Sextuples atau Enam gelar dalam semusim, tepatnya di tahun 2009 silam.

Kemudian, Pep juga sempat sukses bersama Bayern Munchen dan sekarang dia menangani Manchester City. Total, Guardiola hingga kini sudah meraih delapan gelar liga bersama tiga tim berbeda, serta dua trofi Liga Champions Eropa bersama Barcelona.

Tak heran jika orang-orang menyebut pelatih asal Spanyol itu sebagai salah satu pelatih terbaik dunia. Namun, sekarang situasinya cukup berbeda di Manchester city. Musim ini, Pep hampir pasti kehilangan gelar premier League.

Pasalnya, Manchester City yang dibesutnya sudah tertinggal 22 poin dari pemuncak klasemen sementara, Liverpool . Hal inilah yang membuat Pep Guardiola merasa bahwa dia bukan lagi pelatih terbaik dunia.

Namun, sedari masih menangani Barcelona, Pep memang tidak pernah merasa bahwa dia adalah pelatih terbaik.

“Dulu saya pernah (Menjadi pelatih terbaik dunia). Apa itu pelatih terbaik di dunia? Saya tak merasa saya yang terbaik, tak pernah dalam hidup saya,” Demikian kata Pep Guardiola kepada Sky Sports.

Lebih lanjut, mantan pelatih Bayern Munchen ini menegaskan bahwa kesuksesan tim bukan hanya karena racikan taktik dari pelatih, tapi juga karena para pemain yang bekerja sama sebagai tim.

“Ketika saya meraih enam gelar beruntun di Barcelona dan meraih treble, saya tak pernah merasa demikian. Saya juara karena saya memiliki para pemain luar biasa di klub besar,” tandasnya.

Bahkan pep juga mengakui bahwa dia tidak akan mampu meraih gelar juara jika tanpa dukungan para pemain yang luar biasa.

“Ada para pelatih hebat, mereka tak memiliki pemain ini, mereka tak memiliki klub besar ini. Saya pelatih bagus tapi bukan yang terbaik. Berikan saya tim yang tak seperti Manchester City, saya tak akan juara,” tukasnya.

Resmi Gabung Arsenal, Cedric Soares Janji Tampil 100 Persen

Cedric Soares telah resmi diperkenalkan sebagai penggawa anyar Arsenal, sejak Jum’at malam WIB (31/01). Bek berusia 28 tahun tersebut pun bertekad untuk memberikan 100 persen kemampuannya untuk The Gunners.

Sebagai informasi, Arsenal memang telah mencapai kesepakatan dengan Southampton untuk peminjaman Cedric Soares sampai akhir musim nanti. Bisa dikatakan, kedatangan bek Timnas Portugal ini memang diharapkan oleh The Gunners.

Pasalnya pasukan Mikel Arteta sedang mengalami krisis lini belakang, menyusul cederanya beberapa pemain andalan mereka. Nah, setelah resmi diperkenalkan sebagai penggawa anyar klub, sosok berusia 28 tahun tersebut mengumbar janjinya kepada para fans The Gunners.

“Saya akan memberikan 100% kemampuan saya di setiap hari dan di setiap pertandingan,” beber Soares kepada situs resmi Arsenal.

Lebih lanjut, pemain kelahiran Jerman ini juga menegaskan bahwa dia bukanlah tipe pemain yang suka mementingkan diri sendiri. Soares bahkan siap berkorban segalanya demi kepentingan tim dan klub, termasuk demi mencapai target di akhir musim nanti.

“Saya akan mencoba untuk menjadi energi dari tim ini. Saya juga menilai bahwa saya adalah pemain tim. Sebenarnya cukup sulit ketika anda diminta mendeskripsikan diri anda. Namun sekali lagi, saya akan memberikan 100% kemampuan saya untuk tim ini dan juga para fans.” Tandasnya.

Arsenal saat ini berada dibawah arahan Mikel Arteta. Menurut Soares, mantan assisten Pep Guardiola tersebut mengusung filosofi yang disukainya. Diapun yakin dengan proyek Arsenal dibawah arahan pelatih asal Spanyol

“Saya melihat tim ini ingin menjadi tim yang nyaman dalam menguasai bola. Saya juga melihat semua orang benar-benar bekerja keras ketika kami kehilangan bola. Ada pressing yang cukup ketat dan tim ini fokus untuk mengontrol tim lawan dan juga mencetak gol. Saya rasa Arsenal saat ini tengah membangun sesuatu yang bagus.” Tutupnya.

Arsenal sendiri masih membutuhkan performa yang konsisten. Meski tampak membaik dari segi performa, tapi hasil yang diraih masih belum bisa dikatakan konsisten. Di klasemen sementara, Arsenal berada di posisi ke-10.

Selanjutnya mereka akan berhadapan dengan Burnley. Partai bertajuk pekan ke-25 Premier League tersebut akan berlangsung pada Minggu malam WIB (02/01).

Dianggap Suksesor Lampard, Henderson Sempat Merasa Tertekan

Jordan Henderson kini jadi salah satu gelandang terbaik Eropa, dia bahkan memenangkan penghargaan sebagai pemain Inggris terbaik tahun 2019 kemarin. Namun keberhasilan ini tidak diraih dengan mudah. Sebelumnya, Hendo sempat mendapat tekanan yang berat, terutama saat dirinya dicap sebagai suksesor legenda Liverpool, Steven Gerrard.

Henderon sendiri bergabung dengan Liverpool pada bursa transfer musim panas tahun 2011 silam. Awalnya, dia kesulitan menembus tim utama, terlebih Steven Gerrard masih jadi pemain The reds saat itu. Kondisi tersebut tentu membuat Henderson tertekan, sulit berkembang. Biar begitu, dia tetap dipercaya menjadi kapten The Reds setelah Gerrard memutuskan pergi di tahun 2015.

 

Tapi siapa yang menyangka, kepergian sang kapten justru membuat Hendo semakin tertekan. Bagaimana tidak ? Publik kerap membandingkannya dengan legenda Inggris tersebut.  Pemain mana pun yang berada di posisi Henderson tentu kesulitan, untung dia tidak hancur di bawah tekanan. Namun secara perlahan tapi pasti performanya membaik.

 

Adalah Danny Murphy, yang ternyata diam-diam mengamati Henderson dan menilai bahwa sang gelandang timnas Inggris sempat merasakan tekanan.

 

“Segalanya tidak selalu berjalan mudah untuk Henderson di Anfield, dan saya kira dia sudah menderita sejak awal karena dibandingkan dengan Steven Gerrad, yang jelas tidak adil. Mudah mengatakan itu ketika dia bergabung di usia 20 tahun pada 2011 lalu, sebab dia merupakan gelandang muda Inggris. Tapi dia tidak seperti Gerrard, sebab tidak ada yang seperti itu.” ungkap Murphy kepada BBC Sport.

 

“Tentu saja bermain di samping seorang Steven Gerrard akan membuat kesulitan, hal tersebut karena Anda berada di sekitar salah satu gelandang terbaik di dunia, Anda tidak akan pernah terlihat lebih baik dari dia.  Barulah sejak Gerrard pergi pada tahun 2015 dan tim mulai berevolusi di bawah Jurgen Klopp, publik mulai terbiasa dengan performanya” tandasnya.

 

Sekarang, menurut Murphy, Jordan Henderson sudah berkembang menjadi sosok gelandang yang fantastis, terlebih usianya masih sangat muda, 29 tahun.

 

“Di usia 29 tahun, dia sudah berkembang menjadi sosok gelandang yang hebat dan merupakan contoh fantastis untuk pemain yang memaksimalkan kemampuannya,” tutup Murphy.

Daniele De Rossi Akhirnya Resmi Gantung Sepatu

Salah seorang legenda besar AS Roma dan Tim Nasional Italia, Daniele De Rossi akhirnya benar-benar memutuskan gantung sepatu alias pensiun. Keputusan tersebut diambil De Rossi pada Senin waktu setempat, atau Selasa dinihari WIB (07/01), sang legenda resmi pensiun di usianya yang sudah menginjak 36 tahun.

Sebenarnya, selama dua tahun terakhir ini, De Rossi memang mengalami masalah cedera kambuhan yang mengganggu performanya di atas lapangan. Alih-alih memutuskan gantung sepatu pada musim panas kemarin, sang gelandang justru memutuskan untuk hijrah ke Argentina untuk membela Boca Juniors, mengakhiri 18 tahun karirnya bersama Gialorossi.

Setelah hanya bermain enam kali bagi Boca Juniors, De Rossi kembali cedera, dan akhirnya dia memutuskan pensiun. Namun, keputusan ini bisa dipastikan bukan karena faktor cedera tersebut, atau karena faktor Usia. De Rossi menjelaskan bahwa keputusan ini murni karena dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarganya.

“Ini bukan karena masalah cedera serius atau masalah besar lainnya, sungguh. Saya hanya merasa perlu kembali bersama keluarga saya. Secara khusus saya merindukan putri saya dan dia juga merindukan saya. Saya sudah membuat keputusan, sudah dipastikan. Semua orang sudah mencoba meyakinkan saya untuk melakukan sebaliknya, mereka menawarkan saya waktu lebih banyak, tapi keputusan sudah dibuat dan tak ada yang aneh dengannya,” ujar De Rossi seperti dikutip Football Italia.

Bisa dikatakan, Daniele De Rossi adalah salah satu legenda sepanjang masa bagi AS Roma. Bagaimana tidak ? Dia menghabiskan hampir sepanjang karirnya bersama dengan AS Roma, mulai dari menimba ilmu di tim akademi, kemudian menembus tim utama, menjadi kapten, menggantikan Francesco Totti sebagai ikon klub.

Selama berseragam Roma, De Rossi total bermain sebanyak 616 kali dengan menyumbang 63 gol di semua kompetisi. Ia mempersembahkan dua trofi Coppa Italia serta satu gelar Piala Super Italia bagi Giallorossi. Sedangkan di ajang Internasional, Daniele De Rossi tampil cemerlang, mencatat 117 caps untuk Tim Nasional Italia, dan masuk dalam skuat yang memenangkan Piala Dunia di tahun 2006 silam.

De Ligt Tepis Rumor Ingin Tinggalkan Juventus

Bek Muda Belanda, Matthijs De Ligt baru beberapa bulan berkostum Juventus, namun sudah diterpa isu hengkang. Rekan setimnya di Belanda, Frenkie De Jong mengklaim bahwa De Ligt akan menyusulnya bergabung dengan Barcelona dalam waktu dekat. Tapi De Ligt membantah klaim rekannya tersebut, bahkan mengikrarkan janji setia pada Bianconneri.

Sebagaimana diketahui, Matthijs De Ligt bergabung dengan Juventus pada bursa transfer musim panas kemarin dari Ajax Amsterdam. Performa apik yang ditunjukkan sang pemain bersama klub belanda di musim lalu memaksa Juventus harus merogoh kocek sebesar 75 Juta Euro demi mendapatkan servis Bek berusia 19 tahun tersebut.

Diharapkan bisa jadi bagian dari peremajaan skuat Juventus, faktanya performa De Ligt sejauh ini dinilai masih belum sesuai ekspektasi. Terutama pada awal musim, di mana ia melakukan serangkaian blunder yang membuat Juventus kebobolan. Dalam dua laga terakhir, De Ligt juga tidak diturunkan manajer Maurizio Sarri.

Tak heran jika De Ligt diklaim telah mengambil keputusan yang salah dengan bergabung ke Juventus, gelandang Belanda, Frenkie De Jong pun mengklaim rekannya itu akan segera bergabung dengan Barcelona dalam waktu dekat. Tapi De Ligt membantahnya, dia mengaku masih sangat bahagia di Turin dan ingin bertahan di Juventus dalam waktu lama.

“Saya sangat senang di Turin, saya harap bisa bertahan di sini untuk waktu yang lama. Tentu saya sangat bangga [bergabung dengan Juventus], saat sebuah klub seperti Juve menginginkan anda, itu adalah sebuah kehormatan. Saya selalu menyukai Juventus sebagai sebuah klub dan sekarang saya senang serta bangga bisa mengenakan seragam ini,” Demikian ungkap De Ligt saat diwawancarai oleh Juventus TV

Lebih lanjut, De Ligt mengaku mendapat banyak ilmu sejak bergabung dengan Juventus, tentu saja datang dari dua pemain senior Bianconneri, Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini.

“Di sini saya berlatih dan bermain dengan para pemain terbaik dunia. Dengan Bonucci, kami saling paham satu sama lain dengan sangat baik dan saling memuji. Saya tahu apa yang ia bisa dan sebaliknya. Saat ini, kami sedang berusaha untuk bermain padu di atas lapangan,” tutupnya.

Jumpa Barcelona di 16 Besar Liga Champions, Ini Kata Gattuso

Napoli dipastikan berjumpa dengan lawan yang berat di dua leg babak 16 besar Liga Champions Eropa musim ini, dan lawan tersebut tiada lain adalah Barcelona. Jelas, di atas kertas Wakil La Liga Spanyol itu lebih unggul, namun pelatih anyar Napoli, Gennaro Gattuso menegaskan bahwa timnya tak takut melawan Barcelona.

Sebagaimana diketahui, UEFA menggelar drawing atau undian untuk babak 16 besar Liga Champions Eropa, pada Selasa Dinihari WIB (17/12) di Swiss. Ada beberapa pertandingan menarik yang akan tercipta di babak tersebut, termasuk diantaranya duel antara Real Madrid vs Manchester City, Atletico Madrid vs Liverpool dan Chelsea vs Bayern Munchen.

Sedangkan Napoli yang hanya finish sebagai runner up pada babak penyisihan group memang sudah diprediksi bakal berhadapan dengan lawan yang berat, alias juara group. Benar saja, mereka diundi berhadapan dengan juara bertahan La Liga Spanyol, FC Barcelona di dua leg babak 16 besar nanti. Jelas, Napoli tidak diunggulkan lolos ke babak perempat final.

Pasalnya musim ini performa Napoli sedikit menurun dibanding musim lalu, khususnya di Serie A, bahkan serangkaian hasil negatif ini membuat klub harus memecat Carlo Ancelotti dari kursi manajer beberapa waktu lalu.

Meski demikian, pelatih anyar klub, Gennaro Gattuso tetap optimis, percaya diri dan tak gentar untuk berhadapan dengan Barcelona pada dua leg babak 16 besar mendatang.

“Kami akan menghadapi tim yang hebat, tantangan besar dan dua pertandingan yang menarik. Kami akan menghadapi semua itu tanpa rasa takut,” Kata Gattuso kepada reporter.

Sebagai informasi, pertandingan melawan Barcelona nanti praktis akan menjadi pertandingan pertama Gattuso di akjang Liga Champions Eropa. Sementara itu saat menjalani debutnya bersama Napoli di Serie A, timnya kalah dari Parma dengan skor 1-2.

Adapun pertandingan leg pertama melawan Barcelona nanti akan berlangsung di Stadio San Paolo, Naples pada 25 Februari 2019 mendatang. Sedangkan leg kedua akan berlangsung di markas Barcelona, pada 18 Maret 2019. Artinya, masih ada banyak waktu bagi Partenopei untuk memperbaiki performa mereka sebelum berhadapan dengan Barcelona.

Terungkap ! Pep Larang Para Pemainnya Ikut Pesta Natal

Pep Guardiola memang salah satu sosok manajer terbaik dunia, dan hal tersebut sudah diakui banyak orang, dan juga sudah terbukti dengan prestasinya selama ini. Tapi, untuk menghasilkan sebuah tim yang sukses, Pep ternyata memberlakukan aturan yang cukup keras, termasuk melarang para pemain Manchester city untuk ikut merayakan pesta natal bersama klub.


Dikabarkan bahwa mantan manajer Bayern Munchen tersebut tidak senang dengan perayaan pesta Natal tahun lalu, lantaran melihat performa timnya malah lebih buruk setelah pesta tersebut. Sebagai informasi, Manchester city memang memiliki tradisi untuk mengadakan pesta Natal untuk semua karyawan klub dalam beberapa tahun terakhir.

Kurang lebih dalam pesta tersebut akan ada 400 orang yang terlibat, terdiri dari hampir semua elemen klub termasuk para pemain, pelatih , staff pelatih dan lainnya. Namun pesta musim lalu terjadi sebelum kekalahan 3-2 dari Crystal Palace di kandang sendiri, hal inilah yang membuat Pep guardiola menarik kesimpulan bahwa Pesta tersebut membuat performa para pemainnya menurun.

Apalagi, empat hari setelah kekalahan dari The Eagles, City juga kalah di markas Leicester City yang membuat mereka tertinggal jauh di belakang Liverpool dalam perburuan gelar. Meski pada akhirnya tetap berhasil keluar sebagai juara premier League, Pep tetap menjadikan ini sebagai catatan khusus.

Apalagi, dengan fakta bahwa saat ini timnya tertinggal 14 poin dari Liverpool yang ada di puncak klasemen, Pep jelas tak ingin kejadian serupa membuat tim asuhannya jauh lebih tertinggal. Di acara pesta 12 bulan lalu, para pemain berbaur dengan karyawan klub tapi beberapa dari mereka justru berpesta hingga malam hari di kelab Chinawhite, dan itu berlangsung sampai pagi hari.

Memang, setelah acara tersebut, para pemain Manchester City langsung bergabung dengan sesi latihan penuh seharian. Akan tetapi, pelatih City itu percaya bahwa pesta malam itu berkontribusi terhadap kekalahan mengejutkan di kandang dari Palace. Adapun Desember dan Januari merupakan periode sibuk untuk bagi Manchester City, sehingga Pep tak ingin timnya mengalami kemerosotan.

Tottenham Hotspur Disarankan Jual Christian Eriksen

Salah seorang mantan pesepakbola Inggris, Darren Fletcher memberikan saran kepada Klub London Utara, Tottenham Hotspur menyoal masa depan salah satu pemain mereka, Christian Eriksen. Gelandang Internasional Denmark tersebut menurutnya lebih baik dijual klub pada kesempatan bursa transfer musim dingin Januari mendatang.


Sebenarnya, spekulasi masa depan Christian Eriksen di Tottenham Hotspur sudah ramai diperbincangkan sejak bursa transfer musim panas kemarin. Wajar saja, Sang playmaker menolak untuk memperbaharui kontraknya yang akan berakhir di musim panas nanti. Seiring dengan munculnya spekulasi tersebut, performa Eriksen sendiri tergolong cukup menurun musim ini.

Sehingga yang bersangkutan tidak begitu berkontribusi untuk tim arahan Jose Mourinho. Alhasil, banyak yang memprediksi Eriksen memang akan meninggalkan Spurs, tapi sejauh ini klub belum memberikan konfirmasi apapun, termasuk lewat pelatih anyar mereka, Jose Mourinho. Tapi Darren Fletcher merasa bahwa Spurs memang harus melepas sang gelandang.

Mantan pemain Manchester Untied dan Fulham tersebut menilai bahwa Eriksen sudah tidak ingin membela Tottenham lagi.

“Christian Eriksen sudah tidak mencintai klubnya,” demikian kata Fletcher kepada BBC Radio 5 Live.

Lebih lanjut, Fletcher menilai bahwa Eriksen tak lagi memiliki keinginan untuk membela Tottenham Hotspur, sehingga terus memaksakan sang pemain untuk bertahan di White Hart lane adalah suatu hal yang sia-sia atau mubazir.

“Dia terlihat jelas tidak mau berada di Tottenham Hotspur lagi.” Tandasnya.

Eriksen sendiri sejauh ini digosipkan tengah menjalin komunikasi dengan beberapa klub papan atas Eropa. Di Inggris, Manchester United diberitakan tengah intens untuk mendekati sang playmaker. Mereka berencana untuk mengamankan jasa Eriksen di musim dingin nanti. Di samping itu, pemain berusia 27 tahun tersebut juga dikaitkan dengan raksasa La Liga Spanyol, Real Madrid.

Los Blancos diyakini siap menggelontorkan dana untuk sang pemain pada Januari 2020 mendatang. Laporan yang beredar di Inggris mengungkapkan bahwa Tottenham sudah bersiap untuk kehilangan Eriksen di musim dingin nanti. Mereka memilih menjualnya ketimbang kehilangannya secara gratis di akhir masa kontraknya nanti.

Selama membela Spurs, Eriksen sendiri telah mencatatk 293 penampilan dan mencetak 68 gol diantaranya di semua ajang.

Manchester City, Favorit Juara Liga Champions Musim ini

Juara bertahan Liga Primer Inggris, Manchester City dianggap sebagai favorit juara di ajang Liga Champions Eropa musim ini oleh manajer Juventus, Mauruzio Sarri. Hal tersebut diungkapkan mantan manajer Chelsea, karena dia meyakini bahwa Citizen akan lebih fokus pada ajang Liga Champions setelah melihat kondisi Liga yang tidak berjalan sesuai harapan mereka.


Sebenarnya, Manchester city hampir tak pernah masuk dalam jajaran tim favorit juara Liga Champions Eropa selama ini. Bukan tanpa sebab, bahkan manajer Pep Guardiola sendiri mengakuinya. Hal tersebut karena sejarah dan kebesaran klub itu sendiri yang membuat peluang juara di ajang Liga Champions lebih besar, sedangkan City adalah klub ‘kemarin sore’.

Selama ini, mereka memang berprestasi di pentas domestik, dan dalam dua musim terakhir menjuarai Liga primer. Tapi, Saat ini sang juara bertahan terpuruk di peringkat ketiga klasemen sementara Premier League, tertinggal 14 poin dari Liverpool yang duduk nyaman di puncak. Nah, menurut pelatih Juventus, Maurizio Sarri, situasi ini sudah tidak ideal.

Diapun yakin bahwa manajer Pep Guardiola memiliki pandangan yang sama, mengalihkan fokus ke ajang Liga Champions Eropa. Guardiola tahu selisih 14 poin di Premier League itu sangat besar, mengingat musim lalu mereka jadi juara hanya dengan keunggulan 1 poin. Di Satu sisi, Sarri juga tahu persis bagaimana kualitas Manchester city, dia pernah langsung berhadapan dengan mereka saat masih membesut Chelsea.

“Saya secara spontan menganggap Man City sebagai favorit. Kesan yang saya dapatkan dari tim ini membuat saya yakin bahwa mereka mungkin bakal lebih fokus di Liga Champions daripada di Premier League musim ini.” Demikian ujar Sarri di Sky Sports yang di rilis pijarbola

Juventus arahannya sendiri berhasil lolos ke babak 16 besar sebagai juara Group, artinya salah satu runner up akan ditemui Bianconneri di babak tersebut, tak terkecuali Tottenham Hotspur arahan Jose Mourinho.

“Saya cukup beruntung bisa mengenalnya (Mourinho) secara personal. Tentu saya menaruh respek tinggi kepadanya, dia ada di level luar biasa. Saya hanya bisa berkata bahwa sebenarnya dia berbeda dari apa yang terlihat. Ketika Anda mengenal dia secara pribadi, dia benar-benar pria yang berbeda,” tandas Eks Pelatih napoli ini.